Archive for November, 2007

Hands [catatan perjalanan stase luar kota]

Tuesday, November 27th, 2007

Hands, bentuk jamak dari hand. Kalau di bahasa Indonesia artinya tangan ya.. Kalau hands diartikan tangan-tangan aneh juga. Tangan itu dah sepaket, ya kanan ya kiri, kecuali kalo dispesifikkan jadi tangan kanan atau tangan kiri..

Kenapa dengan tangan? Secara sadar atau tidak, tangan, sudah sangat banyak membantu kita dalam kehidupan, entah dari mulai hal yang besar seperti mengerjakan suatu rancangan proyek yang rumit atau sampai hal yang kecil seperti sekedar ngucek-ngucek mata atau ngupil, hehe..

Tangan merupakan sarana kita untuk mewujudkan apa yang ada di otak dan pikiran kita. Jaras-jaras saraf motorik ke tangan, yang jalan dari otak terus lewat plexus brachialis (yang lumayan susah buat dihafal), menjalankan fungsi tangan yang tadi. Tangan kita juga bukan hanya jadi sarana untuk mentransfer dari dalam ke luar, tapi juga dari luar ke dalam. Jadi ga cuma punya fungsi motorik, tapi juga sensorik. Reseptor di kulit tangan menerima dan saraf menghantarkan impuls dari luar. Istilah mudahnya ya, ga jauh-jauh dari kalimat yang sering kita dengar, tangan itu fungsinya untuk : memberi dan menerima.

Hmm, kalau dipikir-pikir, untuk suatu hal yang physically terlihat, mudah untuk mengetahui fungsi tangan kita. Tapi untuk suatu hal yang tidak terlihat wujudnya, susah ya, dan mungkin kita nggak sadar kalau tangan kita dah begitu berjasa.

His name was Yusuf, an extraordinary boy. Hehe, jangan kaget, ini bukan flight of ideas, tapi cuma awalan buat paragraf baru yang topiknya masih nyangkut2 di atas kok. Yusuf anak yang ceria, ya selayaknya anak seumurnya yang lagi seneng2nya maen dan berteman. Tapi sebagai anak umur 10 tahun, Yusuf nggak sekolah di SD biasa seperti anak-anak lain, Yusuf is one of the special ones, dia sekolah di sekolah luar biasa. Being a Down’s syndrome child, dia memang punya banyak keterbatasan dalam aktifitasnya, terutama fungsi kognitif. Tapi ternyata kalau kita mau mengenal lebih jauh anak-anak seperti Yusuf, kita mungkin baru sadar, kalau tangan kita itu punya kemampuan yang luar biasa..

Kenapa luar biasa? Mungkin tangan Yusuf juga tidak sesempurna tangan lain untuk melakukan berbagai pekerjaan. Tapi tangan itulah yang dah menghantarkan semua perasaannya, kasih sayang, kehangatan, kejujuran, dan ketulusan seorang anak kecil, kepada sesamanya. Tangan Yusuf sangat terbuka, menggenggam tangan orang yang mengajaknya bicara, yang dengan itu, jelas secara tidak disadari, dah memberikan kesan bagi lawan bicaranya. Ya maaf bagi orang dengan kadar serotonin yang tidak mencukupi alias perasaannya tumpul, mungkin jabatan tangan itu cuma sekedar lewat saja. Jika dibayangkan secara susah, sentuhan tangan Yusuf bisa membuka reseptor-reseptor di otak yang mempengaruhi afek dan perasaan kita..

Trus kenapa dengan tangan kita? Kenapa tangan kita kadang susah untuk memberi? Setelah saya berpikir dan merenung, wuuhh.. betapa kadang jauhnya saya (mungkin kita semua kali ya..) dari yang namanya mengungkapkan ketulusan, kejujuran, dan kasih sayang dari hati. Masa-masa innocent yang sudah terlewati, dan mungkin dari berbagai perjalanan hidup yang sudah dijalani, membuat kita sulit menjadikan tangan ini, suatu sarana pengungkapan perasaan.. Bukan cuma kepada orang-orang tersayang lho, tapi juga orang lain, bahkan yang baru saja ketemu. Yah, semoga saja masih banyak Yusuf lainnya yang selalu bisa mengajarkan, bahwa tangan kita ini, haruslah memberi, dari dalam hati…

Give me your hand, i will show you sincerity, honesty, and love..

:: dya :: 21 november 2007 ::

(Penulis adalah lulusan Fakultas Kedokteran UGM dan sedang menjalani pendidikan Koasisten)

Kita ini manusia!

Monday, November 26th, 2007

Iya, manusia, yang menurut Maslow punya basic needs yang harus dipenuhi : biologic; sense of belonging; love and to be loved; safe and security; reward and to be rewarded; actualization, punya berbagai cerita hidup yang tidak akan habis, dan dalam cerita hidup itu, ada berbagai sisi yang bisa dipelajari. Karena itu, seorang manusia, as a patient, harus dipandang secara holistik. Dan dengan belajar dari pasien, bukan hanya masalah medisnya yang menarik, tapi juga masalahnya sebagai manusia seutuhnya. Seperti yang selama tujuh bulan lebih ini saya lihat, tidak ada yang tidak menarik dari seorang pasien, yang posisinya bagi saya adalah guru. Dari mulai masalah kesehatan yang simpel seperti kutil (believe me, a verruca is not always that simple..), hingga penyakit kronis yang sudah punya berbagai ‘teman’ komplikasi, seperti hipertensi-gagal jantung-gagal ginjal-stroke. Semuanya menarik. Atau kalau mau lebih jeli, ya dengan memandangnya secara holistik, ya dia sebagai makhluk sosial, ya dia sebagai anggota keluarga, ya dia sebagai profesinya, dan seterusnya. Kadang masalah yang ada seperti iceberg phenomen, yang keliatan dari luar hanya sedikit saja. Tapi kalau bisa digali, terungkaplah semuanya. Ungkapan “Saya sakit..” tidak selalu bisa dijadikan acuan, tapi bagaimana kesakitan itu diungkapkan dengan bahasa tubuh dan interaksinya dengan orang lain. Mungkin di situ menariknya psikiatri ya. Instruktur saya bilang, kenapa dia memilih untuk belajar jadi psikiater, yaitu karena dia bisa belajar setiap hari. Bukan hanya dari textbook atau teori2 yang ada, tapi dari mengamati dan mempelajari orang-orang di sekitar, bahkan dengan berjalan-jalan di mall (it’s such an easy thing for her to recognize two persons as friends or couple), seperti halnya dengan mengamati teman sendiri yang sering berkedip misalnya, pun bisa jadi pelajaran yang menarik. Percaya? Hmmm.. an interesting start to learn psychiatry, mempelajari manusia..

:: dya :: bangsal jiwa, midnovember 2007 ::

(Penulis adalah lulusan Fakultas Kedokteran UGM yang sekarang sedang menjalani pendidikan Koasisten. )

Pemilu Presiden IA ITB

Wednesday, November 21st, 2007

Tanggal 17 November 2007 kemarin diadakan pemilu untuk memilih presiden IA ITB yang baru menggantikan Laksamana Sukardi. Mengenai calon-calonnya tidak perlu saya ceritakan karena di blog yang lain sudah banyak yang membahas hal tersebut. Saya hanya ingin bercerita pengalaman saya mengikuti pemilu ini dan beberapa hal aneh yang terjadi.

Saya baru diwisuda 27 Oktober 2007 yang lalu, jadi saya tergolong alumni sangat muda. Sebelum hari pencoblosan, saya pernah mengisi form pendaftaran pemilih di depan masjid Salman. H-1 saya menerima SMS yang mengingatkan saya bahwa esok hari adalah hari pencoblosan. SMS itu juga menyatakan bagi yang pernah mendaftar diharapkan mengambil bukti pendaftaran di stand Hatta Rajasa (salah satu calon). Siang sekitar jam 1 saya datang ke kampus bermaksud menggunakan hak pilih saya. Setelah saya parkir di SR, saya menuju stand Hatta Rajasa untuk mengambil tanda bukti pendaftaran. Tapi disana ternyata nama saya tidak ada dalam daftar pemilih yang telah mendaftar. Oleh penjaga stand disarankan untuk mengisi kembali form pendaftaran. Sesuai saran saya isi kembali form pendaftaran dan mengisi daftar hadir. Setelah itu saya mendapatkan pin dan kaos Hatta Rajasa. Setelah itu saya menuju boulevard untuk menukarkan form pendaftaran dengan tanda peserta Kongres yang nantinya ditukarkan lagi dengan surat suara.

Semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada kesulitan apapun. Setelah mencoblos, jari kelingking kiri saya dicelup tinta. Sepintas tidak ada masalah, namun ada beberapa keanehan sebagai berikut:

  1. Pada saat saya mendaftar, tidak ada verifikasi apakah saya benar-benar alumni ITB. Verifikasi seharusnya dilakukan dengan menggunakan fotokopi ijazah, namun di stand Hatta Rajasa maupun stand pengambilan tanda peserta kongres, saya tidak pernah diminta menunjukkan bukti bahwa saya adalah alumni ITB.
  2. Di formulir pendaftaran, sudah tercantum dua tandatangan penjamin, yang menyatakan bahwa saya adalah alumni ITB. Namun saya sama sekali tidak mengenal penjamin tersebut, dan saya yakin mereka juga tidak mengenal saya.

Saya tidak tahu apakah kejanggalan ini hanya terjadi di stand Hatta Rajasa saja atau di semua calon. Seandainya mau, bisa saja mahasiswa atau bahkan non orang ITB ikut mencoblos. Oya, peristiwa ini disaksikan oleh rekan Ali Akbar yang kebetulan mencoblos bersama saya.

Sekarang, hasil pemilu sudah ditetapkan dengan kemenangan mutlak di kubu Hatta Rajasa. Mungkin ini bisa jadi pelajaran untuk pemilu-pemilu mendatang. Kepikiran juga, kenapa nggak pake pemilu online?? ITB masak nggak bisa bikin pemilu online??

Oya, kenapa nggak pemilu tiap tahun aja ya?? Banyak makan-makan, banyak training-training gratis…..

Migrasi Blog Ke Server Baru

Tuesday, November 20th, 2007

Berhubung saya sudah lulus, jadi saatnya memindahkan blog saya yang semula ditaruh di server dalam kampus ke hostingan di luar kampus. Pemindahan ini juga dipicu sulitnya blog saya diakses dari luar kampus. Terbukti di situs agregator blog planet-if.amudi.org, blog saya selalu dalam keadaan tidak dapat diakses.

Jadi sekarang blog ini numpang di server hosting milik montirhost yang digawangi teman di ARC. Ternyata migrasi blog berbasis wordpress dari satu server ke server lain tidak sesulit yang dibayangkan.

Pertama, buat backup semua database wordpress kita dari server yang lama. Biasanya semua tabel yang berawalan wp_. Kemudian ubah file wp_config.php sesuai dengan konfigurasi database di server baru. Berhubung nama domain saya tetap, maka tidak ada perubahan yang dilakukan di dump database. Upload dump database ke server yang baru. Pindahkan semua file wordpress dari server lama ke server baru tanpa merubah susunan file. Hasilnya, blog ini bisa jalan seperti ketika dijalankan di server sebelumnya. Semua itu dengan catatan konfigurasi server kompatibel dengan versi wordpress yang dipakai.

Untuk memindahkan alamat blog agar mengacu ke server yang baru, tinggal ubah nameserver di control panel domain kita. Blog aulia.net semua menggunakan nameserver ns1.itb.ac.id dan gtw.arc.itb.ac.id, sekarang menggunakan ns1.montirhost.net dan ns2.montirhost.net.

Dengan beroperasinya aulia.net di server baru, semoga dapat lebih mudah diakses oleh pembaca.

Coffee Seminar @ Starbucks BSM

Friday, November 16th, 2007

Rabu 14 November 2007 kemaren aku, rika, ikhsan, deasy, ridwan, & roncay diajakin arie buat ikutan Coffee seminar di Starbucks Bandung Super Mall. Pertama denger coffee seminar yang kebayang oleh kami adalah kami duduk di ruangan agak gede mendengarkan presentasi menggunakan LCD Proyektor dengan pembicara para ahli kopi disertai suguhan kopi starbucks gratis… Bukan begitu saudara-saudara??

Pas nyampe starbucks agak heran juga, kok sepi amat, mana peserta seminar lainnya?? Baru deh dijelasin sama arie bahwa peserta seminarnya ya cuman rombongan kami aja. Dan kopi seminar itu diselenggarakan di salah satu sudut kafe starbucks. Disana kita mendengarkan penjelasan mbak pegawai starbucks (namanya teh Dini kalo nggak salah) dan nggak pake Proyektor.

Dijelasin macem-macem kopi dan kategorinya, ada Mild, Medium, Bold, dan Extra Bold. Trus sempat nyobain dua macam kopi. Namanya lupa. Tanya rika aja, dia yang rajin mencatat. Sempat ditunjukin biji kopi asli, dan beberapa kubawa pulang. Habisnya si arie beli souvenir, masak aku pulang nggak bawa souvenir… Jadi ya ambil yang gratisan aja :D

Diakhir seminar ada kuis yang dimenangkan deasy dan arie. Mereka masing-masing mendapatkan gratis satu minuman, boleh pilih terserah. Trus kami foto-foto sebelum pulang.

Disana kita dikasih suguhan beberapa kue yang dipotong kecil-kecil dan beberapa minuman dengan gelas berukuran kecil juga… Kayaknya biar kami pengen trus beli :D. Ada kejadian lucu… Pas dikasih kue yang pertama, langsung kami makan dengan cepat dan agak berebutan… Trus mbaknya bilang “Kalian lapar ya…” Duh maluuuu….. :D

Oya, coffee seminar ini diadakan tiap hari rabu jam 4 sore by request dan gratis. Yang mau ikutan tinggal kontak aja pihak Starbucksnya. Lumayan, nyobain kopi mahal, meski rasanya sama-sama pahit juga… :D

Cerita lebih lengkap mengenai cara-cara membuat dan menikmati kopi bisa dilihat di blognya rika. Soalnya dia nyatet. Kalo aku mah cuman ndengerin bengong jadi udah lupa…

Jalan-jalan ke Punclut

Wednesday, November 14th, 2007

Minggu 11 November 2007

Jalan-jalan ke Punclut.

Ceritanya, malam minggu aku ngajak Herdhi untuk jogging minggu pagi di Sabuga, tapi dia nggak mau, katanya minggu mau ke Punclut. Ya udah, daripada jogging sendirian mending ikutan ke Punclut. Lagian aku juga belum pernah ke Punclut. Katanya pemandangannya bagus & ada pasar dadakan. Sebelumnya dengar Punclut cuma karena ada yang demo menentang pembangunan villa-villa mewah di Punclut yang katanya membahayakan lingkungan Bandung terutama sumber daya air.

Minggu sekitar jam 7 pagi kami berangkat ke Punclut naik motor berbekal petunjuk dari teman yang pernah kesana. Petunjuknya mudah, dari perempatan Gandok ke utara ke arah Ciumbuleuit. Terus sampai ketemu pertigaan, ambil arah kiri trus parkir di Rumah Sakit TNI AU. Lokasi pasar dadakannya ada di sebelah kanan jalan dari RS TNI AU. Pasar dadakan berlokasi di sepanjang jalan kurang lebih sepanjang 1 km.

Ketika sampai disana, keadaan sudah sangat ramai. Bahkan ada yang datang serombongan nampaknya menggunakan kendaraan sewaan. Aku & Herdhi langsung berjubel di keramaian mencoba mencari sarapan. Tujuan kami adalah warung sate kelinci. Menurut teman kosan, disana ada yang jual sate kelinci. Lama juga menyusuri jalan yang menanjak dan dijejali ratusan orang. Sepanjang jalan dijumpai berbagai macam penjual. Mulai jajanan pasar, mainan, pakaian, sendal, tas, cinderamata, sayuran, hingga counter kornet s* g**d. Tapi sate kelinci yang kami cari tidak ada, yang ada penjual kelinci hias peliharaan.

Pas udah nyampe tempat dimana penjual sudah sepi, kami menyerah. Sate kelincinya nggak ada. Akhirnya karena kelaparan, kami masuk ke salah satu warung timbel. Disana kami ambil nasi merah plus ayam bakar plus pesen bandrek ditambah sambel. Ternyata harganya mahal. Menu seperti dalam foto dihargai 13500. Wah kalo di deket kosan udah dapet dua porsi nasi timbel komplit (udah plus tempe tahu) tu.

Selesai makan, kami menyusuri balik pasar Punclut, sambil mencari pesanan teman yaitu sekilo Alpukat sekaligus aku pengen cari cinderamata. Dapet sekilo Alpukat seharga 3000 rupiah dari tawaran semula 4000 rupiah. Ketemu cinderamata bagus, bros dan gantungan kunci berbentuk angklung dan seruling. Penjualnya nawarin 3000 rupiah satu biji. Kutawar 6000 tiga biji, eh nggak boleh. Pake jurus pergi berharap penjualnya berubah pikiran ternyata nggak mempan. Ya udah. Ke penjual lain, nemu pigura bagus. Penjualnya nawarin 20ribu rupiah. Kutawar 15ribu, eh langsung boleh. Dalam hati mikir kayaknya nawarnya kurang rendah deh. Tapi apa boleh buat, udah deal. Setelah dapet Alpukat dan cinderamata, berikutnya beli susu segar seharga 2000 rupiah, trus Herdhi beli Buntil (ini istilah jogja untuk sayur daun pepaya yang rasanya agak pedas). Belanja selesai, kami pulang.

Overall, pemandangannya tidak terlalu bagus, karena di jalan, pemandangannya tertutup oleh pedagang-pedagang. Mungkin jika menyusuri lebih jauh lagi bisa ketemu pemandangan yang bagus. Penjual dan pembeli sangat banyak dan ramai. Kalau kesana lebih baik siapkan uang receh untuk pengemis dan pengamen.

Ini foto jalanan di Punclut dan pigura yang kubeli

Sekian field report dari Punclut, semoga bisa menjadi alternatif weekend Anda.

My Graduation

Wednesday, November 7th, 2007

Foto wisudaku bisa dilihat di disini.
Setelah hampir setahun bergelut dengan TA, akhirnya tiba juga saat wisuda. Wisudaku tanggal 27 Oktober 2007 bertempat di auditorium Sabuga. Kesibukan wisuda dimulai dengan mengurus administrasi. Mesti bayar 225rb untuk ikut wisuda. Kemudian disusul dengan tandatangan ijazah, ngambil toga, dan gladi resik sehari menjelang wisuda.

Kesibukan lainnya adalah mempersiapkan kedatangan keluarga. Berhubung keluarga datang dari jauh jadi mereka datang sehari sebelumnya. Otomatis saya harus menyiapkan penginapan. Setelah mencari dan menelpon kesana kemari, akhirnya saya booking Wisma BKKKS di deket terminal Sadang Serang, dekat dengan kosan saya. Satu kamar untuk tiga orang, dan cukup luas, ada TV-nya juga dihargai 75rb. Cukup murah dibanding yang lain. Jumat saya ikut gladi resik di Sabuga, sementara keluarga belanja oleh-oleh.

Yah begitulah persiapannya. Sekarang tibalah hari H. Berhubung pengen dapet tempat parkir di bawah (deket pintu gedung sabuga), kami memutuskan berangkat pagi-pagi. Jam 6 keluarga udah siap berangkat dari penginapan. Padahal sayanya baru selese mandi & lagi minum coklat hangat pemberian Wahyudi. Terpaksa buru-buru… Sebelum ke Sabuga, kami makan dulu di kantin Lia deket kosan… Pas makan kami sekeluarga kan ngomong pake bahasa Jawa, soalnya penjualnya juga orang Jawa. Eh, ada seorang ibu nyamperin dan nanya “Sampeyan saking pundi?” (Kamu dari mana?). Setelah ngobrol beberapa saat, akhirnya ketahuan kalo beliau adalah orangtuanya Dibon. Wah, baru tau kalo dibon ada keturunan Solo.

Habis itu ke Sabuga. Pas kami datang, Sabuga masih sepi. Kepagian kali ya, jam 7 pagi nyampe sana. Sambil nunggu pintunya dibuka, foto-foto dulu. Sempat ketemu Widya & Brian. Prosesi wisudanya sendiri membosankan. Terutama pas nunggu dipanggil ke depan salaman sama rektor. Pasalnya STEI tu termasuk yang akhir-akhir. Untung pas foto bersama rektor, STEI dapet giliran kedua.

Habis prosesi trus keluar, foto-foto sambil menunggu kejelasan habis ini mau dibawa kemana sama anak himpunan. Sempat beberapa saat terlantar di luar bareng wisudawan IF yang lain. Soalnya diluar cuman ada dua anak yang pegang bendera. Bahkan pas wisudawan IF keluar dari pintu sabuga bareng-bareng, nggak ada anak himpunan yang menyambut. Yang pasang barikade malah anak arsi.

Habis itu dinaikin mobil ke gerbang depan, trus arak-arakan. Arak-arakannya rada garing gitu. Menurut beberapa teman malah sempat diketawain penonton juga. Kok kayaknya IF yang paling nggak punya tradisi wisuda, nggak punya lagu-lagu keren dan bersemangat macam solidarity forever-nya mesin & avanti-nya industri. Trus nggak ada acara seru di persembahan angkatannya. Nggak ada cebur-ceburan atau lempar kantong air. Kok kayak nggak berkesan gitu. Beda sama pas jaman angkatan 2003 jadi panitia (cieee..).

Ya gitu deh wisudaku…

Pokoknya barang siapa mau wisuda mesti punya duit. Apalagi yang ikut banyak unit. Pasti banyak yang malak…