Jalan-jalan ke Punclut

Minggu 11 November 2007

Jalan-jalan ke Punclut.

Ceritanya, malam minggu aku ngajak Herdhi untuk jogging minggu pagi di Sabuga, tapi dia nggak mau, katanya minggu mau ke Punclut. Ya udah, daripada jogging sendirian mending ikutan ke Punclut. Lagian aku juga belum pernah ke Punclut. Katanya pemandangannya bagus & ada pasar dadakan. Sebelumnya dengar Punclut cuma karena ada yang demo menentang pembangunan villa-villa mewah di Punclut yang katanya membahayakan lingkungan Bandung terutama sumber daya air.

Minggu sekitar jam 7 pagi kami berangkat ke Punclut naik motor berbekal petunjuk dari teman yang pernah kesana. Petunjuknya mudah, dari perempatan Gandok ke utara ke arah Ciumbuleuit. Terus sampai ketemu pertigaan, ambil arah kiri trus parkir di Rumah Sakit TNI AU. Lokasi pasar dadakannya ada di sebelah kanan jalan dari RS TNI AU. Pasar dadakan berlokasi di sepanjang jalan kurang lebih sepanjang 1 km.

Ketika sampai disana, keadaan sudah sangat ramai. Bahkan ada yang datang serombongan nampaknya menggunakan kendaraan sewaan. Aku & Herdhi langsung berjubel di keramaian mencoba mencari sarapan. Tujuan kami adalah warung sate kelinci. Menurut teman kosan, disana ada yang jual sate kelinci. Lama juga menyusuri jalan yang menanjak dan dijejali ratusan orang. Sepanjang jalan dijumpai berbagai macam penjual. Mulai jajanan pasar, mainan, pakaian, sendal, tas, cinderamata, sayuran, hingga counter kornet s* g**d. Tapi sate kelinci yang kami cari tidak ada, yang ada penjual kelinci hias peliharaan.

Pas udah nyampe tempat dimana penjual sudah sepi, kami menyerah. Sate kelincinya nggak ada. Akhirnya karena kelaparan, kami masuk ke salah satu warung timbel. Disana kami ambil nasi merah plus ayam bakar plus pesen bandrek ditambah sambel. Ternyata harganya mahal. Menu seperti dalam foto dihargai 13500. Wah kalo di deket kosan udah dapet dua porsi nasi timbel komplit (udah plus tempe tahu) tu.

Selesai makan, kami menyusuri balik pasar Punclut, sambil mencari pesanan teman yaitu sekilo Alpukat sekaligus aku pengen cari cinderamata. Dapet sekilo Alpukat seharga 3000 rupiah dari tawaran semula 4000 rupiah. Ketemu cinderamata bagus, bros dan gantungan kunci berbentuk angklung dan seruling. Penjualnya nawarin 3000 rupiah satu biji. Kutawar 6000 tiga biji, eh nggak boleh. Pake jurus pergi berharap penjualnya berubah pikiran ternyata nggak mempan. Ya udah. Ke penjual lain, nemu pigura bagus. Penjualnya nawarin 20ribu rupiah. Kutawar 15ribu, eh langsung boleh. Dalam hati mikir kayaknya nawarnya kurang rendah deh. Tapi apa boleh buat, udah deal. Setelah dapet Alpukat dan cinderamata, berikutnya beli susu segar seharga 2000 rupiah, trus Herdhi beli Buntil (ini istilah jogja untuk sayur daun pepaya yang rasanya agak pedas). Belanja selesai, kami pulang.

Overall, pemandangannya tidak terlalu bagus, karena di jalan, pemandangannya tertutup oleh pedagang-pedagang. Mungkin jika menyusuri lebih jauh lagi bisa ketemu pemandangan yang bagus. Penjual dan pembeli sangat banyak dan ramai. Kalau kesana lebih baik siapkan uang receh untuk pengemis dan pengamen.

Ini foto jalanan di Punclut dan pigura yang kubeli

Sekian field report dari Punclut, semoga bisa menjadi alternatif weekend Anda.

2 Responses to “Jalan-jalan ke Punclut”

  1. yayan Says:

    walah.. 4 tahun nang bandung lagi wae nang punclut tho ul?? hehe =D, btw pemandangene kuwi ketoke apike nek pas mbengi, nang sing paling dhuwur.. ketok gemerlap kota bandung.. apalagi klo bawa istri menikmati diner sambil melihat kerlap-kerlip bintang (halah jann) ^^’

  2. rika Says:

    piguranya lucuuu! tp bisa dpt lebi murah kek ny tu…

Leave a Reply