Pemilu Presiden IA ITB
Tanggal 17 November 2007 kemarin diadakan pemilu untuk memilih presiden IA ITB yang baru menggantikan Laksamana Sukardi. Mengenai calon-calonnya tidak perlu saya ceritakan karena di blog yang lain sudah banyak yang membahas hal tersebut. Saya hanya ingin bercerita pengalaman saya mengikuti pemilu ini dan beberapa hal aneh yang terjadi.
Saya baru diwisuda 27 Oktober 2007 yang lalu, jadi saya tergolong alumni sangat muda. Sebelum hari pencoblosan, saya pernah mengisi form pendaftaran pemilih di depan masjid Salman. H-1 saya menerima SMS yang mengingatkan saya bahwa esok hari adalah hari pencoblosan. SMS itu juga menyatakan bagi yang pernah mendaftar diharapkan mengambil bukti pendaftaran di stand Hatta Rajasa (salah satu calon). Siang sekitar jam 1 saya datang ke kampus bermaksud menggunakan hak pilih saya. Setelah saya parkir di SR, saya menuju stand Hatta Rajasa untuk mengambil tanda bukti pendaftaran. Tapi disana ternyata nama saya tidak ada dalam daftar pemilih yang telah mendaftar. Oleh penjaga stand disarankan untuk mengisi kembali form pendaftaran. Sesuai saran saya isi kembali form pendaftaran dan mengisi daftar hadir. Setelah itu saya mendapatkan pin dan kaos Hatta Rajasa. Setelah itu saya menuju boulevard untuk menukarkan form pendaftaran dengan tanda peserta Kongres yang nantinya ditukarkan lagi dengan surat suara.
Semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada kesulitan apapun. Setelah mencoblos, jari kelingking kiri saya dicelup tinta. Sepintas tidak ada masalah, namun ada beberapa keanehan sebagai berikut:
- Pada saat saya mendaftar, tidak ada verifikasi apakah saya benar-benar alumni ITB. Verifikasi seharusnya dilakukan dengan menggunakan fotokopi ijazah, namun di stand Hatta Rajasa maupun stand pengambilan tanda peserta kongres, saya tidak pernah diminta menunjukkan bukti bahwa saya adalah alumni ITB.
- Di formulir pendaftaran, sudah tercantum dua tandatangan penjamin, yang menyatakan bahwa saya adalah alumni ITB. Namun saya sama sekali tidak mengenal penjamin tersebut, dan saya yakin mereka juga tidak mengenal saya.
Saya tidak tahu apakah kejanggalan ini hanya terjadi di stand Hatta Rajasa saja atau di semua calon. Seandainya mau, bisa saja mahasiswa atau bahkan non orang ITB ikut mencoblos. Oya, peristiwa ini disaksikan oleh rekan Ali Akbar yang kebetulan mencoblos bersama saya.
Sekarang, hasil pemilu sudah ditetapkan dengan kemenangan mutlak di kubu Hatta Rajasa. Mungkin ini bisa jadi pelajaran untuk pemilu-pemilu mendatang. Kepikiran juga, kenapa nggak pake pemilu online?? ITB masak nggak bisa bikin pemilu online??
Oya, kenapa nggak pemilu tiap tahun aja ya?? Banyak makan-makan, banyak training-training gratis…..