Archive for August, 2008

Dirgahayu

Thursday, August 14th, 2008

dir-ga-ha-yu a berumur panjang (biasanya ditujukan kpd negara atau organisasi yg sedang memperingati hari jadinya): – Republik Indonesia, panjang umur Republik Indonesia (Dikutip dari http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/)

Belakangan dalam menyambut HUT kemerdekaan RI ke 63 banyak kita jumpai spanduk atau tulisan “Dirgahayu Republik Indonesia” atau “Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia” atau sejenisnya. Merujuk pada arti kata dirgahayu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang saya kutip diawal, orang yang menulis “Dirgahayu Republik Indonesia” saya anggap mendoakan agar Republik Indonesia panjang umur, sedangkan yang menulis “Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia” berarti mendoakan agar Kemerdekaan Republik Indonesia panjang umur. Berbagai tulisan di media cetak maupun online membahas mengenai mana yang benar antara dua kalimat itu secara kaidah bahasa. Biarlah mereka yang ahli dibidang itu yang membahas masalah tersebut. Di tulisan ini saya ingin membandingkan umur negara kita sekarang ini dengan umur negara-negara yang pernah berjaya di dunia.

Berikut adalah umur beberapa negara yang pernah berjaya di dunia dari berbagai sumber:

  1. Roman Republic & Roman Empire : 984 tahun
  2. Mongol Empire : 162 tahun
  3. Umayyad Dynasty : 90 tahun
  4. Abbasid Dynasty : 508 tahun
  5. Majapahit : 207 tahun
  6. Sriwijaya : kurang lebih 1100 tahun
  7. Soviet Union : 69 tahun

Umur negara kita yang “baru” 63 tahun ini ternyata relatif masih muda. Bahkan kalau boleh dibilang belum mencapai masa kejayaannya. Negara-negara yang saya sebutkan diatas pernah mengalami masa kejayaan, hingga ketika masa kejayaannya mungkin tidak ada orang yang akan mengira bahwa negara mereka akan pecah atau bahkan musnah. Siapa yang menyangka ketika Mongol berhasil menguasai eropa timur hingga jepang dan cina, mereka akan menjadi negara yang relatif terpuruk sekarang ini. Dulu ketika Romawi mencapai wilayah terluasnya dibawah Kaisar Trajan, siapa yang mengira bahwa kerajaan mereka akan runtuh. Kemudian bagaimana dengan Indonesia 100 tahun kedepan?

Indonesia 100 tahun kedepan belum tentu masih ada. Di pundak rakyatnya lah eksistensi Indonesia digantungkan.

Selamat HUT Kemerdekaan RI ke 63.

Kalender Hijri : Akankah Menjadi Kalender Utama?

Monday, August 11th, 2008

It’s my opinion. Feel free to criticize..

Setiap awal ramadhan, umat islam selalu dicuri perhatiannya oleh penetapan tanggal 1 Ramadhan dan nanti penetapan tanggal 1 Syawal. Muhamadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1429 H jatuh pada 1 September 2008 dan 1 Syawal 1429 H jatuh pada 1 Oktober 2008. Sementara pemerintah baru akan menetapkan 1 Ramadhan 1429 H pada sidang itsbat tanggal 31 Agustus 2008.

Saya tidak akan membahas mengenai penetapan tanggal dan metodenya karena saya bukan ahlinya. Hanya saya tergelitik untuk menanyakan akankah kalender Hijri bisa menyamai atau bahkan mengungguli popularitas kalender Gregorian yang selama ini dipakai secara resmi di negara kita. Saya teringat ucapan seseorang (saya lupa siapa orangnya) yang mengatakan bahwa sulit menjadikan kalender hijri sebagai kalender resmi dan utama negara kita apalagi kaitannya dengan dunia bisnis. Hal ini disebabkan sering terjadi perbedaan penetapan tanggal. Ketidakpastian mengenai tanggal ini akibatnya bisa fatal. Misalnya dalam hal tenggat waktu pembayaran. Atau perjanjian-perjanjian yang kaitannya dengan tanggal.

Menurut saya alasan itu cukup masuk akal. Lantas bagaimana dulu penerapan kalender hijri di zaman Rasulullah SAW dan para sahabat? Ada yang ingin melengkapi dan mengungkapkan pendapat?

Resensi : Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer)

Monday, August 4th, 2008

Bumi Manusia adalah Buku Pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Buku ini adalah salah satu koleksi penulis. Koleksi penulis lainnya disini.

Roman Tetralogi Buru diawali dengan penuturan Minke yang mengambil peran utama, tentang kehidupannya di akhir abad 19. Minke, seorang priyayi Jawa yang berhasil menjadi siswa HBS, mencoba melepasan diri dari kejawaannya, dengan memandang Eropa sebagai acuan budaya dan ilmu pengetahuan. Hidup dengan diskriminasi yang sangat terhadap statusnya yang pribumi di antara orang-orang Indo maupun Totok (Eropa asli), Minke yang mengagungkan semboyan revolusi Perancis, mencoba menyuarakan pendapatnya melalui media tulis. Menggunakan nama pena Max Tollenaar, terinspirasi dari sang panutan Edward Douwes Dekker, Minke berhasil merebut perhatian para pejabat, kalangan terpelajar baik Totok maupun Indo. “Sayang, hanya pribumi…” adalah kalimat yang selalu dihadapinya saat berbicara dengan orang-orang yang berpandangan sempit, dan selalu dapat ditangkisnya pula dengan menunjukkan kemampuan dan kecerdasannya yang melebihi mereka.

Minke yang berjiwa Eropa, merasa menemukan ‘guru’nya saat bertemu Nyai Ontosoroh, wanita luar biasa, yang meskipun pribumi namun pribadi dan kecerdasannya melebihi wanita Eropa. Di sisi lain, Minke semakin ingin bebas dari segala aturan dalam keluarga Jawa-nya, emoh mengorbankan kebebasannya sebagai manusia yang memiliki harga diri dan hak untuk bebas berkembang. Kisah percintaannya dengan Annelies Mellema, Indo yang merasa pribumi tulen, putri Nyai Ontosoroh, membawanya menghadapi masalah pelik bertubi-tubi, menjajal kemampuan bertahannya menghadapi diskriminasi dan ketidakadilan yang diterimanya sebagai pribumi. Dalam roman ini, Minke, seorang priyayi, pribumi, belajar, dari Eropa yang menjadi kiblatnya, dari kehebatan seorang nyai, dari kebijaksanaan dan kerendah hatian Jean Marais –sahabat Perancisnya-, dari pergaulannya dengan orang Indo dan Totok, baik yang sejalan maupun memusuhinya.

Tokoh Minke digambarkan sebagai pemuda yang benar-benar berjiwa muda, masih berapi-api dan selalu ingin mencari kebebasan, menyuarakan apa yang menurutnya benar, menurutnya patut dipertahankan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Di satu sisi memang inilah karakter Minke yang kuat, seorang pribumi terpelajar yang lebih daripada Eropa. Namun dapat dilihat juga Minke sebagai orang yang egosentris, di mana dia hanya melihat kepentingannya, mengangkat apa yang jadi masalah dan tuntutannya saja, dan tidak melihat apa yang terjadi pada rakyat di sekitarnya, bangsanya sendiri. Di sinilah menariknya perkembangan pribadi Minke, yang dilanjutkan pada roman kedua, Anak Semua Bangsa.